Sabtu, 06 September 2014

Popok Warisan

         Due date semakin dekat,  makin deg-degan menunggu hari H dimana si kecil akan lahir. Takut, cemas dan gelisah campur aduk aku rasakan ketika membayangkan proses melahirkan yang mau tidak mau harus aku lalui.

Takut bila aku tak bisa melaluinya dengan baik, cemas kalau semua tidak bisa berjalan dengan semestinya.  Tapi tentu rasa bahagia semakin besar, mengingat apa yang aku tunggu hampir 2 tahun akan segera hadir.

Dan yang bikin dilema tentu saja urusan belanja. Seneng banget nge list kebutuhan yang harus disiapkan, tapi ngeri ketika membayangkan isi dompet, hiks

Kebutuhan bayi baru sangat banyak,  sayang dipakainya cuma sebentar. Kalau gak disiapin pasti butuh, kalo disiapin, mahal, dipake nya cuma bentar. Kalau gak disipain, pasti butuh dan kalau yerpaksa kudu nyuruh pak su belanja, gak ngerti harga mahal atawa murah, pokoknya tugas terlaksana, main beli aja.

Dilema tingkat dewa.

Untuk bab perpopok an ini, aku harus berterima kasih sama Ibuku.

Ketika melahirkan adikku tahun 92 (si bungsu yang selisihnya denganku 12 th), Ibuku membuat sendiri popok, bedong dan gurita bayi. 

Maksudnya sih beli kain dan di borongin ke penjahit,  enggak beli jadi. Karena itu, kualitasnya juga lebih bagus drpd beli jadi.
Setelah gak dipakai, sama beliau dibungkus rapi, di kasih kamper dan disimpan.

12 tahun kemudian, dimulailah petualangan popok bayi ini.

Bermula dari kakak pertamaku yang menikah dan punya anak. Popok tersebut dikeluarkan dari persembunyiannya untuk menyambut cucu pertama dalam keluarga kami.

Setelah cuti 12 th, si popok kembali bertugas dan dipakai oleh anak pertama dari kakak pertamaku

Semua masih lengkap. Bedong, gurita, popok kain, bantal-guling bayi, selimut dan kain-kain jarik dan teman-temannya.

 Seiring bertambah besarnya si anak pertama dr kakak pertama, si popok istirahat di bungkus dan di kamperin lagi, meski kali ini koleksinya bnyak yang berkurang karena banyak yang hilang, ketlisut, bertambah buruk rupa dan mulai termakan usia alias "Memet".

        1 th kemudian, giliran kakak ke 3 ku yang melahirkan.

Jadilah si popok terbang ke Kupang NTT untuk menemani hari-hari si newborn. Beberapa bulan bertugas, si popok di terbangkan kembali ke Jawa untuk diistirahatkan.  Tetapi tidak di nyana, kakak ke 3 ku yang di Kupang hamil lagi (kesundulan).

Alhasil, terbanglah si popok ke Kupang lagi. (hadow, popok aja naik pesawat meski pesawatnya gratisan).

Abis dari Kupang 2x, giliran ku menerima piala bergilir ini karena si Biya lahir. Lumayan banget memangkas anggaran belanja untuk si new born.  Selamet deh isi dompet.

Meski untuk popok-popok yg bertali itu hampir tidak pernah aku pakai karena aku lebih nyaman pakai diaper, tapi untuk gurita, bedong, bantal-guling, selimut, topi, kaos kaki dan baju masih sangat berguna.

Makin banyak yang berkurang karena rusak dan termakan usia dan hilang atau ketlisut entah dmn, tapi banyak juga tambahan barang2 baru hasil pembelian kakak2 yang udah lahiran duluan dan juga dari kado-kado. 

Selesai mengabdi padaku sekali, si popok kembali mengemban tugas untuk mengabdi ke kakak pertamaku lagi.

Kali ini anak ke 2 nya. Dari sini, makin berkurang lagi jumlahnya, makin banyak yang termakan usia (bayangkan aja, dr tahun 92 sampai sekarang )

        Kakak pertama, kakak ke 3 dan akulah yang selalu menggunakan popok turun temurun ini. Kemana kakak ke 2 ku? kok gak kebagian piala bergilir? Kakak ke 2 ku memakai popok warisan dari keluarga isrinya.

Nah, sampai sekarang, si popok telah mendampingi 7 bayi dari tahun 1992. Bermula dari adikku dan terakhir di pakai tahun 2013 kemaren, lahirmya anak ke 2 ku, Si Cilla.

      Saat ini, si popok warisan sedang beristirahat. sudah dipaking rapi kembai karena untuk sementara, dari kami sudah cukup, tidak ingin menambah momongan lagi.

Jadi untuk sementara dimusiumkan kembali ke Kediri, rumah emakku. Si popok tidak akan di wariskan ke luar keluarga kami, karena masih ada yang akan memerlukannya.

Tinggal adikku, si pemilik popok yang sah yang baru menikah dan InsyaAllah akan punya anak.

Kelak si popok akan mengabdi dan menyelimuti anak nya, dan mungkin adikku akan memakaikan gurita, baju bayi dan bedong ke anaknya sambil menceritakan bahwa apa yang dipakainya ini adalah punya ibunya dulu dan akan menceritakan perjalanan popok ini tanpa mengenal lelah mengabdi dan melindungi kami semua.

Love Mom's Life
Dewi Ulunk

FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar