Jumat, 29 Agustus 2014

Hamil Pertama

Dulu, sebelum hamil, sungguh aku ketakutan bila harus melahirkan, coz banyak yang bilang (gak cuma banyak kalle, tapi nyaris semua orang) kalau melahirkan itu sakit, pertarungan hidup dan mati seorang ibu demi buah hati yang di cintainya.

Mungkin perasaan  itu pula yang membuatku harus menunggu 2 tahun sampai akhirnya aku di beri anugrah menerima momongan.

Ketika hamil beneran, ternyata ada yang lebih menakutkan daripada bayangan sakitnya melahirkan, yaitu masa-masa ngidam atau trimester pertama.

Masa itu sempat membuatku trauma. 4 bulan pertama kehamilan yang sangat menderita. Bagaimana tidak, semua yang aku makan pasti keluar lagi.

Mual, muntah, perut kosong seperti berisi angin, merasa lapar tapi tidak nafsu makan karena kuatir muntah.

Haduuuh rasanya gak enak banget (lebay, kayak di dunia ini cuma gue ajje yang hamil & mual muntah).

Makan nasi, buah, biskuit, air putih pun muntah. Sampek mikir-mikir kalo mau makan, tapi gak mungkin juga kalo gak makan sama sekali. Kasihan kan si jabang bayi.

Sempat juga mengalami flek diawal kehamilan mungkin karena banyak kesibukan beruntun yang harus aku lakukan.

Sebelum tau hamil, aku sedang berada di Kupang NTT selama 2 minggu dalam rangka mengantar dan menemani kakakku yang habis lahiran.

2 minggu di Kupang, aku pulang ke Sidoarjo dan besoknya ikut Family Gathering kantor suami ke sebuah tempat wisata di Lamongan Jawa Timur.  Pagi hari sebelum berangkat Fam Gath itulah saya baru menyadari kalau saya hamil.

Besoknya, kami harus pindahan, kembali ke Malang dengan segala keruwetan packing dan loading barang.

Seminggu di Malang dengan kesibukan merapikan barang-barang pindahan, ditambah menjalankan puasa Ramadhan,  aku baru  sempat periksa ke dokter kandungan.

Dokter memberikan resep obat penguat yang harus aku minum tiap hari. Sepertinya efek dari obat penguat inilah yang membuatku mual muntah. Dokter bilang, mual dan muntah salah satu pertanda janin berkembang dengan baik.

Mungkin karena aktivitas-aktivitas tersebut membuatku kecapekan, ditambah lagi sedang berpuasa dan mual muntah yang mebuat kurangnya nutrisi mengakibatkan timbulnya flek. Dokter tentu saja menyarankan aku bed rest dan tidak boleh berpuasa dulu.

Yang membuatku sedih, aku tidak boleh melakukan perjalan jauh yang berat, padahal saatnya mudik lebaran semakin dekat.

Akhirnya kami memutuskan, saya cuma boleh mudik ke Kediri yang hanya 2 jam perjalanan dari Malang dengan medan berkelok yang tidak terlalu berat.

Terpaksa aku tidak ikut mudik ke rumah mertua karena perjalanan ke sana lumayan berat dengan melewati jalan berkelok, menanjak dengan kemiringan yang lumayan ekstrim dengan kondisi jalan yang rusak  menuju pesisir pantai.

Demi calon bayi kami yang telah 1 tahun lebih kami tunggu kehadirannya, terpaksa saya anteng di Kediri. Suami mudik sendiri ke mertua.

Yang memalukan itu, selama suami mudik, aku yang biasanya kemana-mana sendiri, terpaksa menanggung malu harus rela dibonceng kesana kemari selama acara lebaran (omegot).

Kalo ada yang bawa mobil, aku diikutkan naik mobil. Kayak orang gak bisa ngapa-ngapain wae. Sumpeh gak enak banget harus tergantung sama orang lain.

Untungnya, masa-masa gak nyaman ini gak berlangsung lama. Memasuki bulan ke 4, mual muntah sudah mulai berkurang dan berangsur-angsur hilang. 

Aku ingat sekali hari dimana aku terakhir muntah. Waktu itu aku perjalanan ke Kediri karena ngikut suami yang harus kunjungan kerja ke area Kediri.

Karena Misskom sama suami, jadinya berangkat terburu-buru tanpa sempat masukin apapun ke perut.

Nyampe jalan berbelok-belok (Malang-Kediri harus melalui jalan berkelok-kelok di dinding bukit) mampir ke warung nasi karena terasa lapar.

Karena suami buru-buru mau kerja, terpaksa nasi dibungkus dan saya makan di mobil. Suami ngebut, jalan berkelok, hamil muda, lapar, makan sambil ngepot-ngepot.
Lengkap sudah penderitaanku.

Akumabuk dan muntah dengan sukses. Nyampek Kediri, aku bayar penderitaanku dengan makan bakso panas dan pedas, fiuuuuh langsung nyaman rasanya perut.

Malamnya, kuterima berita duka, rumah yang pagi tadi aku tinggalkan dengan terburu-buru, telah disatroni maling. Isi rumah ludes. TV, Tape, DVD Player dan Tabung Gas. Huhuhu

Memang belum rejeki, dan pasti akan ada rejeki lain yang lebih banyak.

Rencana 3 hari di Kediri gagal total. Malam itu juga kami kembali ke Malang karena rumah dalam keadaan amburadul.

Itulah kali terakhir aku muntah di trimester awal.

Memasuki bulan ke 5, kehamilan makin mudah dan nyaman. Aktivitasku mulai normal seperti ibu rumah tangga lainnya.

Semua yang tidak membahayakan janin, tetep aku lakukan. Mencuci, mengangkat jemuran, naik motor, nyetir mobil dan makan segala macam yang aku inginkan termasuk asam, pedas dan minum Es.

Banyak yang bilang gak boleh makan pedas, ntar mata anaknya belek an, atau gak boleh minum es karena nanti si Baby besar di dalam.

Semua aku cuekin, bablas wes, panduanku cuma dokter, buku dan majalah per baby an.

Tapi, seperti para ortu lain yang akan mempunyai anak pertama, pasti lebih protektif dan tertib. Begitu juga suamiku, selalu mengingatkanku untuk minum segala jenis vitamin yang di resepkan dokter ku.

Dia juga rajin membelikan vitamin DHA for mother dan C*R biar kebutuhan vitamin dan kalsiumku tercukupi.  Kontrol pun rajin aku lakukan setiap bulan ke dokter kandungan  agar terpantau semua berat badan, tekanan darah, dan kondisi janin di dalam perut.

Aku juga rajin ikut senam hamil di salah satu Rumah Sakit Bersalin yang menyediakan fasilitas senam hamil gratis. Aku juga rajin jalan pagi dengan mencoba track baru yang kelak hal itu berguna untukku selain melancarkan melahirkan.

Ngepel lantai dengan berjongkok yang katanya bisa bikin lancar pas lahiran juga aku kerjakan. (kelak aku baru tau kalau itu tidak ada korelasinya, rugi deh gueeee melantai tiap hari).

Apapun perjuangan dan usaha kita, tetap saja keputusan ada di tangan Allah SWT. Manusia hanya berusaha.

Pada akhirnya harapan kita yang paling besar adalah anak kita lahir dengan sehat, lengkap dan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Tapi bila memang boleh meminta, segala sesuatu bisa dimudahkan, dilancarkan dan tak ada lagi mual, muntah & teler di kehamilan selanjutnya. 

Nikmatilah semua proses yang dilalui, karena tidak semua perempuan bisa mendapat anugerah ini.

Dewi Ulunk

FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk

Sabtu, 16 Agustus 2014

Program Hamil

          Mei 2007, satu tahun berlalu pasca pernikahan aku dengan suami tercinta (ceileee).  Memang pernah terucap dr bibirku, pingin hamil kalo udah setahun menikah, kata orang jawa, itu adalah janji yang bakal terjadi (hik hik). Suami pingin segera punya baby, tapi tidak membebani (thank's say). Yang jadi masalah dan bikin galau (tentu saja) keluarga n teman-teman yang tiap ketemu gak ada basa basi lain selain " udah hamil belum niiih ?..." Yang lebih heboh sih mertua, tanpa ba bi bu aku di seret ke tukang pijet lah, suruh minum jamu kunyit lah, sampai-samapai kalo berkunjung (perjalanan 5 jam booo dr desanya sono ke kota ku) tak lupa mbawain kunyit (hellllowww, disini kunyit ada loooh). Yang paling bikin  bingung, aku disuruh pakai rok, biar keibuan kata beliau (maklum, mantunya mantan preman pasar yang lemari nya isi celana jeans semua). Tapi, usaha itu tidak berhasil, test pack tetep 1 strip (hiks hiks hiks)
           
        Juni 2007, mulailah aku berpikir dan memantapkan hati untuk mempunyai anak. Karena memang ada kekuatiran aku tidak bisa mendidik anak dengan baik, dan membayangkan capeknya mengurus balita. Tepat 1 tahun usia pernikahan, aku memulai ikhtiar, bertepatan dengan kakak ku yg tinggal di kupang NTT pulang untuk melahirkan anak ke 2nya dengan membawa si batita lucu Nabila. Langkah pertama dimulai dengan niat "Oke , si batita ini akan aku hadapi, biar si emak konsen ke lahiran" . Kalau cuma menggendong dan menidurkan bayi sih aku sudah lihai, tetapi untuk urusan bangun malam, mengatasi anak rewel dst dst aku belum pernah. Alhasil, selama si emak di RS, Nabila tidur dengan aku, aku bangun mbuatin susu kalo dia bangun tengah malam, ,memandikan, menyuapi dan semua berjalan lancar.

        Juli 2007, selain itu, usaha lain pun ak tempuh, ketika selesai mens bulan itu, aku dan suami minum vitamin e (aku pakai merk Nat** e). Aku juga ke kyai untuk minta air yang sudah didoain. Dari kyai tersebut aku dan suami disarankan untuk makan otak kelinci. Ditemani Si kakak (yang baru oprasi caesar 1 minggu) kami hunting menelusuri penjual sate kelinci yang rupanya agak ndelesep menuju pedesaan. Tapi usaha kami tidak sia2. kami dapat 10 kepala kelinci yang udah diungkep. Sumpah, gak tega banget, mbayangin kelinci yang lucu itu, dengan telinga panjangnya, harus ku belah kepalanya untuk ku ambil otaknya. Tapi, niat harus diluruskan. akhir kata, sukses lah ak dan suami makan otak kelinci (pecahan kepala kelinci aku kasih ke teman)

         Dan 1 lagi usaha yang tidak kalah penting nya adalah, menghitung masa subur dan membuat jadwal berhubungan (harus yaa). Mungkin memang rejekiku, setelah lama tidak bertemu, aku ketemu sahabat jaman SMU yang menjelaskan masa subur dengan versi mudah. Begini penjelasannya; Contoh : Mens bulan Juli dimulai tanggal 1. Kemudian mens bulan Agustus dimulai tgl 3. Hitunglah jumlah hari dari tgl 1 Juli sd 3 Agustus;  jumlahnya  34 hari. Jadi siklus anda adalah 34 hari, lalu bagilah 2. 34 : 2 = 17 . Jadi, Masa subur anda adalah hari ke 17 dari mens hari pertama. Kalau mens pertama di tanggal 3 Agustus, berarti masa subur anda di tanggal 19 agustus. Silahkan berhubungan di tanggal 16,19 & 22 Agustus (Gak boleh tiap hari broo, karena akan mengurangi kualitas seperma & kekuatan semprotnya, sabar yaaa). Akan lebih bagus lagi kalo anda menandai hari pertama mens di kalender, biar data lebih akurat.

         Agustus 2007, Tibalah waktunya si kakak pulang ke Kupang membawa 1 batita dan si new born. Akulah yang bertugas mengantarkannya sampai ke kupang. Selama di kupang, aku membantu si kakak mengkondisikan si batita berinteraksi dengan si newborn, meski ngantuk, capek, tp ga bisa boci cuy, karena harus menghandle si batita yang cembokur banget sama si new born ditambah lagi si kakak ngotot aja ngajakin aku jalan-jalan selama di Kupang. Pada saat itu ada beberapa keanehan yang aku rasakan, payudara sakit duluan, padahal belum jadwal menstruasi, dan porsi makan ku ampuuun, porsi kuli (padahal aku biasanya porsi model lho) dan akhirnya si Mens tak datang juga samapi tanggal yang seharusnya. Tapi aku berusaha santai karena ini sering terjadi meski tanpa dibarengi tanda2 seperti yang aku sebutkan tadi.

        Dua minggu di kupang, waktunya aku pulang ke jawa, dan si kakak dengan teganya memulangkan aku dengan menumpang pesawat gagah Hercu**s, pas menjelang Ramadhan pula. Penuh bingit deh si gagah ini. Meski dah dicariin tempat duduk sama teman kakak ipar, percuma aja, jauh dari nyaman. Mau ngrubah posisi kaki  aja gak bisa karena dah penuh barang dan orang. Penumpang sebelah semakin menambah parah suasana, anak nya yang besar rempong tingkat dewa, yang kecil rewel, emak nya muntah tiap kali take off n landing ( bukan pesawat biasa, kayak angkot, mampir2 berkali2). Aku yang repot ngasih permen, tissue, ngasih tempat duduk,air minum dst dst (omegot). Lega bingit pas bisa keluar dari pesawat ini dan dijemput suami tercinta di pangakalan

       Dua minggu berjauhan, tentu rindu berat. Sudah aku ingatkan kalau aku telat, demi tindakan pencegahan, seharusnya tidak boleh berhubungan, tapi dia cuek ajja (ya iyalah, 2 minggu gak ketemu, normal kalle). Paginya ketika aku test (pake test pack yang paling murah, dah keseringan beli) Voila..... positif sodara-sodara. Dari beberapa usaha di atas tadi, entah faktor mana yang lebih berperan, yang pasti kami bahagia dan bersyukur menerima anugrah ini, bertepatan dengan promosi jabatan untuk suamiku yang berarti juga akan mendapatkan mobil dinas dan pindah area sesuai posisi rumah kami berada (kami tinggal di sidoarjo, rumah kami di malang). Sungguh Allah memberikan rejeki luar biasa pada kami. Alhamdulillahi Robbill 'Alamin

           Yang bikin bete dari peristiwa ini, aku jadi bahan bercandaan emak n kakak ku sampai sekarang. Kakak ku bilang " Fiuuuuh, untung aja ketahuan hamilnya dah nyampe jawa, kalo masih di kupang, aku harus belikan tiket komersil nih, gak mungkin dinaikin  Hercu**s, selamet deh dompet ku. Untung juga gak keguguran gara2 naik Hercu**s. take off-Landing berkali-kali, dah kayak naik truk sapi ajja, Ha ha ha ha". Temenku lain lagi deh ngarangnya, " Waduh, pulang dari pangkalan AU Kupang lha kok hamil ??? jangan-jangan ???.... dengan santai ak jawab ajja " Lha gimana lagi, di sana yang bujang ganteng banyak banget, hahay? " Setelah aku renungkan, abis naik pesawat gratisan, aku hamil, kalo program anak ke 2 nanti, masak harus naik pesawat gratisan lagi??? itu lebih susah daripada beli tiket pesawat. ( Sapa yang mau nyeponsori niiih? )

         Thank's yang dah mampir, semoga cerita saya sedikit memberi manfaat. Love Mom's Life.

       










Jumat, 15 Agustus 2014

Ngeblog

         Akhirnya,setelah 1 bulan ,saya baru sempat mengutak atik blog ini dan akhirnya lagi, saya bisa memposting tulisan, meski isinya embuh, ga ada manfaatnya ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€, paleng tidak, ini selangkah lebih maju buat saya, maklum, emak-emak, ibu rumah tangga gaptek, yang ruwet dengan 2 anak. Semoga , postingan yang akan datang akan memberi banyak manfaat bagi yang lainnya. Amin. Sudah, sementara cuma ini dulu ajja. Maafkan kalo gak penting yah... tapi yang jelas, hadirnya blog ini telah melalui serangkaian proses belajar bagaimana membuat blog, bagaimana memposting, apa yang harus saya tulis, proses membuang rasa takut dan malu bila blog ini gada yang mampir dan gak penting. Setelah saya bisa mengacuhkan alasan-alasan gak penting tadi, yang saya pikirkan adalah, yang penting tidak merugikan orang lain, itu sudah cukup bagus, lebih-lebih bila bisa memberi manfaat kepada orang lain. Salam Kenal.