Selasa, 14 September 2021

Bekerja Atau Ibu Rumah Tangga?

 Assalamualaikum.

Setelah sekian tahun, akhirnya mulai nulis lagi. Ckckck, kemana aja?

Gak ke mana-mana. Cuma kebanyakan rumpik di fb Dewi Ulunk dan IG @dewi_ulunk untuk memulai bisnis online. 

Balik ke tema.

Saya pernah banget ngalami kegalauan antara kerja atau jadi ibu rumah tangga. Sebenernya, passion saya untuk bekerja gak gede-gede banget sih. Tujuannya gak jelas mau dapet apa. 

Paling banter, mau dapat tambahan penghasilan meski sekedar bisa beli tas, baju dan barang konsumtif lainnya. hihi.  

Ini bahaya. 

Tujuan yang gak jelas, bakal bikin berputar-putar. Gak nyampe-nyampe ke tujuan. Hasilnya akan begitu-begitu aja.

Setelah vakum 4 tahun karena program hamil, kemudian hamil, melahirkan dan menyusui, saya mantap untuk kembali bekerja. 

Tapi ternyata gak mudah samsek.

Berat banget ninggal anak. Apalagi ga ada sodara di kota yang sama. Terpaksa ambil ART menginap dan ini bukan hal yang mudah dan nyaman. Ya gimana ya...terbiasa sendiri, lalu ada orang asing di rumah. Aneh aja. Jadi ga bebas mau ngapa-ngapain.

Udah pernah nyoba titipin anak ke day care. Tapi gagal. Anaknya protes. Ya iya juga,  wong trial nya baru sekali doang saya udah hopeless. Mental saya lemah. Ora tego. 

Hal galau lain yang barus dihadapi tiap hari adalah, tangisan anak tiap mau ditinggal berangkat kerja. Apalagi Bapaknya kerja di luar kota. Dah lah. Nano-nano rasanya. 

Anehnya, sejak saya bekerja, si anak selalu sakit tiap bulan hingga kudu cek lab. Padahal selama ini gak pernah. Sehat-sehat aja.

Puncak kegalauan terjadi ketika si anak sakit lagi dan harus opname. Saat itu saya merasa seperti ibu yang gagal sedunia. Lebah yak? Tapi memang begitu adanya.

Saya pun mulai berpikir ulang. Kenapa saya ruibet nyari uang yang gak seberapa. Lalu uang itu habis buat bayar ART, buat ke dokter dan lab tiap bulan, dan anakku gak bahagia. Huhu.

Sebenernya, apa yang aku cari?

Pertanyaan itu terus berseliweran di pikiran. 

Setelah menghitung segala sesuatunya,  ditambah lagi ART tetiba pamit pulang seterusnya, saya memutuskan resign.  

Cuma 3 bulan saya bekerja lagi. Tapi kehidupan berasa morat marit. Kacau balau dan tidak dalam kendali.

Saya gagal. Gak lihai mengatur dan mencari solusi. Gak tega dan lemah. Memutuskan pasrah dengan apapun rejeki Allah yang dititipkan pada suami. Alhamdulillah cukup meski kudu berhemat.

Makanya sampai sekarang, saya salut pada ibu bekerja yang bisa ngatur rumah, dekat dengan anak, harmonis dengan keluarga dan cemerlang karirnya. 

Pasti semua gak mudah. Butuh kerja cerdas, gigih, disiplin dan niat kuat. Gak boleh males-malesan, mbangkong, apalagi tar sok tar sok. Bisa bikin ruwet kerjaan lain. 

Akhirnya, dengan segala pertimbangan dan meyakini bahwa rejeki Allah luas, tak terhingga dan tak bisa diprediksi, saya melepas embel-embel mejadi ibu bekerja, memilih jadi ibu rumah tangga. 

Kembali mengurus anak sendiri. Bermain dengan bahagia. Gak melewatkan semua tumbuh kembangnya ternyata rejeki tak terhingga yang luar biasa. 

Ini pilihan saya yang akhirnya membawa saya ke takdir selanjutnya yang sangat indah. 

Setiap ibu, punya pilihan dan keputusan berbeda. Mana aja.

Gak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Gak ada yang lebih mudah atau susah.

Gak ada yang lebih keren. 

Semua punya pertimbangan masing-masing karena kondisi berbeda-beda. Apapun pilihannya, lakukan dengan bahagia dan sepenuh hati. 

Kalaupun masih harus menambah penghasilan, ada banyak jenis kegiatan dan usaha yang bisa kita kerjakan dari rumah sambil nemenin anak, melayani suami dan ngurus rumah. 

Tantangan selanjutnya adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Mempelajarinya. Kemudian menjalankannya dengan sepenuh hati dan yang terpenting, punya tujuan jelas. 

Sekian.

Emak Bicill








 


Rabu, 24 Oktober 2018

Melahirkan Anak Pertama

Dulu, sebelum punya anak, saya sempat takut membayangkan proses melahirkan yang kata orang-orang sakitnya wow banget.

Setelah 1 th menikah dan tak kunjung hamil, mulailah berbagai upaya saya lakukan. Pijet, jamu, Vitamin E, makan otak kelinci sampai ngitung masa subur dan rajin ngingetin papih bahwa nanti waktunya "nganu...."

Entah ya...faktor mana yang berpengaruh, tp setelah menerapkan beberapa kegiatan tersebut maka, hamillah saya.

Awal hamil, barulah ketakutan saya akan sakitnya melahirkan mulai sirna, karena ternyata, ada yg lebih menakutkan yaitu masa ngidam alias mual muntah.

Gimana gak ngeri gaess, sate gule , pizza, ayam Lodho dan sakpiturute awe-awe depan hidung tapi saya gak nafsu karena perut menolak diisi.

Muntah parah gaess. Gak enak banget rasa di tenggorokan. Body kayak karung tanpa beras. Nglimbruk tak berdaya.

Sampai tiba hari-hari mendekati HPL, saya seperti pada umumnya emak-emak lain, rajin senam hamil dan jalan-jalan pagi.

Alhamdulillah, ada satu RS Bersalin di Malang yang menggratiskan kegiatan senam hamil. Saya manfaatkan sebaik mungkin kesempatan itu, dan saya ulangi ketika saya hamil anak ke 2, 5 tahun kemudian.

Tiap weekeend, saya memilih track jalan pagi yang berbeda. Kadang di lingkungan kampus UB, UMM atau UIN. Kadang ke Batu menyusuri kampung-kampung penjual bunga.

Sesekali, saya juga jalan-jalan pagi di lingkungan sekitar rumah saya dan melalui sebuah rumah bagus yang rimbun dan ternyata rumah seorang bidan.

Pagi itu 10 hari menjelang HPL.
Berhubung bertepatan dengan Libur Nasional Hari Buruh, jalan-jalan pagi kali itu saya ganti ke mall sambil cuci mata.

Ketika mandi, saya mendapati flek di celana dalam saya. Maka berangkatlah kami ke bidan langganan sambil bawa celana buat ganti.

Masih dinyatakan aman oleh bidan karena belum ada buka'an, kamipun lanjut ngemal setelah mengganti sarung saya dengan jeans bumil.

Rencana semula, saya akan melahirkan di rumah ibu saya di Kediri agar ada yang membantu saya nanti.

Kebingungan pun melanda. Harus berangkat kapan?
Kalau berangkat hari ini, nanti malam suami harus balik ke Malang karena besok harus kerja. Kalau berangkat sabtu, kuatir gak nutut juga. Apalagi nanti sore, mobil dipinjam teman buat ngurus pernikahannya di Kediri.

Akhirnya kami putuskan tidak berangkat saat ini.

Malam menjelang, gerimispun datang diiringi kontraksi rutin per 30 menit.
Kakak saya yang waktu itu domisili di Kupang NTT menelpon dan mengkhawatirkan saya. Menyuruh saya segera berangkat ke RS. Sambil ngrumpi by phone, setiap kontraksi datang, saya akan bilang :

"Sik sik diamlah, kontraksi datang" sambil tangan kiri saya pegang hp, tangan kanan berpegangan pada tangan suami.

Begitu kontraksi lewat, rumpik pun berlanjut : "Piye-piye, tadi mbahas apa kita?"

Jam 8 malam, kontraksi makin rapat, gerimis makin lebat, mobil tidak ada, dan taxi online belum usum. Suami menelpon temannya untuk menjemput.

Saya pun turun ke lantai untuk menyiapkan tas sambil nunggu teman yang jemput. Keringat membanjir karena kontraksi  yang semakin kuat menguras tenaga saya.

Teman tak kunjung tiba karena macet, dan saya semakin tak bisa menahan kontraksi dan sangat terasa si baby pengen keluar.

Sempat menelpon RS Bersalin tempat saya biasa senam hamil, tapi ambulance terjebak macet pula karena jalur yang dilalui sama dengan teman kami.

Keinginan mengejan sudah sangat kuat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di jalan lahir.  Mau tak mau, kami harus menghadapi pertaruhan nyawa ini berdua saja.

Suami mengambilkan saya bantal dan melepas celana dalam saya. Sayapun merebahkan badan ke lantai yang terasa dingin. Tanpa alas, tanpa kain.

Mengejan ke 3 dan putri pertama kami lahir, meluncur dari jalan lahir dan ditangkap suami. Menangis keras lalu terdiam.

Saya berusaha tenang dan menyarankan suami untuk menelpon tetangga depan rumah. Suami yang panik kala itu menaruh si bayi begitu saja di lantai karena tali pusat yang masih menyambung dengan placenta,  lalu bergegas lari ke rumah tetangga.

Disaat yang sama, teman kami yang menjemput datang dan bingung kenapa suami saya lari tunggang langgang tanpa memedulikan kedatangannya. Dia yang tidak tahu apa yang terjadi dan memastikan saya baik-baik saja dengan memanggil saya, menunggu instruksi dengan merokok di teras rumah.

Akhirnya, suasana lebih kondusif. Si bayi aman dalam pelukan tetangga. Sementara suami mencari bantuan medis, teman kamilah yang bongkar tas dan mencarikan alas dan selimut untuk si bayi. Barulah dia ikut merasa panik dan menawarkan merebus air seperti adegan melahirkan dalam film jaman dulu hihi.

Bidan datang bertepatan dengan bidan dari RS yang kami telpon.
Tetangga-tetangga juga berdatangan sambil membawakan perlengkapan. Teman-teman suami pun berdatangan dengan tugas masing-masing. Ada yang beli kendi, bunga dan membuat lubang buat memendam placenta.

Tentu saja disertai tingkah konyol dengan mampir ke toko sepatu futsal dan lihat maling di tangakap, memasukkan segala benda aneh-aneh ke dalam kendi Ari-ari.

Diantaranya ada yang datang bersama pacarnya yang calon bidan dan menemani saya malam itu. Dia pula yang  selalu nyemprit saya tiap saya bangun mau ke kamar mandi

"Tunggu mbak....jangan jalan dulu. Pusing gak?  gelap gak?"

"Aman"

"Ya wes...lanjut"

Malamnya, kami memandangi baby Biya dengan rasa takjub dan takut. Andai bayi kami terlilit tali pusat. Andai saya tak kuat mengejan.
Andai ini andai itu....

Saya juga menyesali, kenapa saya biarkan dia dilantai yang dingin ketika suami memanggil tetangga. Kenapa tidak saya peluk saja dia, toh "kabel"nya pasti cukup panjang.

Saya sempat bertanya ketika kami hanya bertiga saja dengan tetangga yang memeluk bayi kami. Apakah si bayi baik-baik saja.

Tetangga yang mantan perawat itu menjawab dengan ceria. "Sehat mb,
ini lho matanya kethip-kethip".

Kelak saya baru memahami bahwa beliau cuma ingin menenangkan saya saja karena waktu itu si bayi mulai biru karena kedinginan.  Boro-boro berkedip-kedip, lha wong matanya belekan parah sampai beberapa minggu.

Pada akhirnya, kami cuma bisa bersyukur dengan segala sesuatu yang dimudahkan, dilancarkan dan disehatkan.

Terlebih lagi, Biya meluluskan 3 permintaan yang selalu saya saoundingkan selama masa kehamilan.

1. Jangan buat bunda sakit ketika mau keluar.
2. Keluarnya pas tanggal muda biar Ayah sudah gajian
3. Lahirnya pas hari libur biar ayah bisa menemani.

Percaya gak percaya, Biya lahir  dengan sangat lancar, tepat tanggal 1 Mei yang artinya Ayah sudah gajian dan libur Nasional Hari Buruh.



Dewi Ulunk
FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk

Jumat, 05 Oktober 2018

Menulis Untuk Berbagi

Beyuuuuh....
Lama banget gak posting dan nulis di Blog geje ini. Umek bayik
*alesan. Umek bayik kok 5 th loss gak syurhat di mari.

Baiklah, cukup sudah vakum cleaner saya *eh saya vakum posting disini. Sudah waktunya saya bangkit dari keterpurukan *halah dan melanjutkan perjuangan menulis mengisi blog ini.

Sampaikanlah walaupun 1 ayat.

Gak kudu pinter semua bidang untuk jadi guru.
Gak perlu melek semua teknologi baru berani berbagi.

Apa yang kita alami belum tentu sama dengan yg dialami orang lain.
Apa yg kita lalui jelas berbeda dengan yg dilalui orang lain.

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman kita, bisa jadi bermanfaat untuk orang lain.

Bismillah.
Semangat berbagi
Syurhat di mari.
Biar lega hati.
Sapa tau rupiah menanti

*Ahekb ahek Joss

Minggu, 06 Agustus 2017

Bukan Sekedar "Ibu"

Ibu.....
Banyak banget arti dari seorang Ibu kalau kita mau menjabarkan.  Mungkin bila air sebuah danau dijadikan tinta, tak kan cukup untuk menuliskan tentang sosok seorang "Ibu" (Halah, lebay mode on)

Banyaaaaak teman masa remaja saya yang seru, haha hihi bareng, ada yang serius, kalem, keibuan, tomboy banget, bahkan semi preman, berubah 180° ketika menjadi seorang ibu.

Perubahan-perubahan itu gak bakal habis kalo dijabari satu-satu, gak bakal cukup air danau dijadikan tinta untuk menuliskannya  (kok balik ke sono lagi yah? )

Ada teman saya yang lemah lembut, gampang sakit, sering gak masuk, sekarang jadi dosen di sebuah Universitas Negeri di kota yang berkembang pesat.

Ada yang serba bisa dan berprestasi, sekarang selain menjadi dosen, ustadzah dengan kenalan penggede-penggede, harus  menjadi single mother yang tegar karena rumah tangganya luluh lantak.

Ada yang bodooor banget waktu SMP, sekarang harus strong jadi single parent juga, yang menanggung ke 2 anak lelakinya yg masih kecil-kecil.

Ada juga yang tomboy abis, sekarang santun ber hijab syar'i. Dan ada yang lemah lembut tapi sangat tegar merawat anak istimewanya.

Dan masih banyak lagi teman-teman yang hasil akhirnya tidak sesuai dengan masa remajanya dulu.

Saya sendiri, IRT dengan 2 putri, gadis tomboy yang jauh dari kata keibuan. Teman-teman saya sering terbengong-bengong, kenapa saya "cuma" jadi seorang ibu rumah tangga, dan mereka juga bingung, kenapa saya bisa sangat santai dengan anugerah seorang anak #Hidrosefalus dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dari teman-teman, saya belajar tentang banyak lika liku rumah tangga, kehidupan, dan arti sebuah perjuangan.

Dari anak-anak, saya belajar arti kasih sayang tulus, kesabaran, kekuatan, dan bersyukur.

Betapa rejeki dan karunia itu bukan cuma uang, tapi juga kesehatan, kemudahan, fasilitas,  sahabat,  suami yang baik dan seorang anak sulung yang memahami kebutuhan khusus adiknya.

Hidup mengajarkan banyak hal. Bisa merubah seseorang dari Nol menjadi bernilai lebih. Pengalaman dan usia semakin memantapkan kedewasaan kita.

Semua hanya titipan yang akan kita kembalikan dan dimintai pertanggung jawabannya.

Ibu, ibu, dan ibu
Ayah

Malang, 5 Agustus 2017


Dewi Ulunk
FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk




Sabtu, 06 September 2014

Popok Warisan

         Due date semakin dekat,  makin deg-degan menunggu hari H dimana si kecil akan lahir. Takut, cemas dan gelisah campur aduk aku rasakan ketika membayangkan proses melahirkan yang mau tidak mau harus aku lalui.

Takut bila aku tak bisa melaluinya dengan baik, cemas kalau semua tidak bisa berjalan dengan semestinya.  Tapi tentu rasa bahagia semakin besar, mengingat apa yang aku tunggu hampir 2 tahun akan segera hadir.

Dan yang bikin dilema tentu saja urusan belanja. Seneng banget nge list kebutuhan yang harus disiapkan, tapi ngeri ketika membayangkan isi dompet, hiks

Kebutuhan bayi baru sangat banyak,  sayang dipakainya cuma sebentar. Kalau gak disiapin pasti butuh, kalo disiapin, mahal, dipake nya cuma bentar. Kalau gak disipain, pasti butuh dan kalau yerpaksa kudu nyuruh pak su belanja, gak ngerti harga mahal atawa murah, pokoknya tugas terlaksana, main beli aja.

Dilema tingkat dewa.

Untuk bab perpopok an ini, aku harus berterima kasih sama Ibuku.

Ketika melahirkan adikku tahun 92 (si bungsu yang selisihnya denganku 12 th), Ibuku membuat sendiri popok, bedong dan gurita bayi. 

Maksudnya sih beli kain dan di borongin ke penjahit,  enggak beli jadi. Karena itu, kualitasnya juga lebih bagus drpd beli jadi.
Setelah gak dipakai, sama beliau dibungkus rapi, di kasih kamper dan disimpan.

12 tahun kemudian, dimulailah petualangan popok bayi ini.

Bermula dari kakak pertamaku yang menikah dan punya anak. Popok tersebut dikeluarkan dari persembunyiannya untuk menyambut cucu pertama dalam keluarga kami.

Setelah cuti 12 th, si popok kembali bertugas dan dipakai oleh anak pertama dari kakak pertamaku

Semua masih lengkap. Bedong, gurita, popok kain, bantal-guling bayi, selimut dan kain-kain jarik dan teman-temannya.

 Seiring bertambah besarnya si anak pertama dr kakak pertama, si popok istirahat di bungkus dan di kamperin lagi, meski kali ini koleksinya bnyak yang berkurang karena banyak yang hilang, ketlisut, bertambah buruk rupa dan mulai termakan usia alias "Memet".

        1 th kemudian, giliran kakak ke 3 ku yang melahirkan.

Jadilah si popok terbang ke Kupang NTT untuk menemani hari-hari si newborn. Beberapa bulan bertugas, si popok di terbangkan kembali ke Jawa untuk diistirahatkan.  Tetapi tidak di nyana, kakak ke 3 ku yang di Kupang hamil lagi (kesundulan).

Alhasil, terbanglah si popok ke Kupang lagi. (hadow, popok aja naik pesawat meski pesawatnya gratisan).

Abis dari Kupang 2x, giliran ku menerima piala bergilir ini karena si Biya lahir. Lumayan banget memangkas anggaran belanja untuk si new born.  Selamet deh isi dompet.

Meski untuk popok-popok yg bertali itu hampir tidak pernah aku pakai karena aku lebih nyaman pakai diaper, tapi untuk gurita, bedong, bantal-guling, selimut, topi, kaos kaki dan baju masih sangat berguna.

Makin banyak yang berkurang karena rusak dan termakan usia dan hilang atau ketlisut entah dmn, tapi banyak juga tambahan barang2 baru hasil pembelian kakak2 yang udah lahiran duluan dan juga dari kado-kado. 

Selesai mengabdi padaku sekali, si popok kembali mengemban tugas untuk mengabdi ke kakak pertamaku lagi.

Kali ini anak ke 2 nya. Dari sini, makin berkurang lagi jumlahnya, makin banyak yang termakan usia (bayangkan aja, dr tahun 92 sampai sekarang )

        Kakak pertama, kakak ke 3 dan akulah yang selalu menggunakan popok turun temurun ini. Kemana kakak ke 2 ku? kok gak kebagian piala bergilir? Kakak ke 2 ku memakai popok warisan dari keluarga isrinya.

Nah, sampai sekarang, si popok telah mendampingi 7 bayi dari tahun 1992. Bermula dari adikku dan terakhir di pakai tahun 2013 kemaren, lahirmya anak ke 2 ku, Si Cilla.

      Saat ini, si popok warisan sedang beristirahat. sudah dipaking rapi kembai karena untuk sementara, dari kami sudah cukup, tidak ingin menambah momongan lagi.

Jadi untuk sementara dimusiumkan kembali ke Kediri, rumah emakku. Si popok tidak akan di wariskan ke luar keluarga kami, karena masih ada yang akan memerlukannya.

Tinggal adikku, si pemilik popok yang sah yang baru menikah dan InsyaAllah akan punya anak.

Kelak si popok akan mengabdi dan menyelimuti anak nya, dan mungkin adikku akan memakaikan gurita, baju bayi dan bedong ke anaknya sambil menceritakan bahwa apa yang dipakainya ini adalah punya ibunya dulu dan akan menceritakan perjalanan popok ini tanpa mengenal lelah mengabdi dan melindungi kami semua.

Love Mom's Life
Dewi Ulunk

FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk

Jumat, 29 Agustus 2014

Hamil Pertama

Dulu, sebelum hamil, sungguh aku ketakutan bila harus melahirkan, coz banyak yang bilang (gak cuma banyak kalle, tapi nyaris semua orang) kalau melahirkan itu sakit, pertarungan hidup dan mati seorang ibu demi buah hati yang di cintainya.

Mungkin perasaan  itu pula yang membuatku harus menunggu 2 tahun sampai akhirnya aku di beri anugrah menerima momongan.

Ketika hamil beneran, ternyata ada yang lebih menakutkan daripada bayangan sakitnya melahirkan, yaitu masa-masa ngidam atau trimester pertama.

Masa itu sempat membuatku trauma. 4 bulan pertama kehamilan yang sangat menderita. Bagaimana tidak, semua yang aku makan pasti keluar lagi.

Mual, muntah, perut kosong seperti berisi angin, merasa lapar tapi tidak nafsu makan karena kuatir muntah.

Haduuuh rasanya gak enak banget (lebay, kayak di dunia ini cuma gue ajje yang hamil & mual muntah).

Makan nasi, buah, biskuit, air putih pun muntah. Sampek mikir-mikir kalo mau makan, tapi gak mungkin juga kalo gak makan sama sekali. Kasihan kan si jabang bayi.

Sempat juga mengalami flek diawal kehamilan mungkin karena banyak kesibukan beruntun yang harus aku lakukan.

Sebelum tau hamil, aku sedang berada di Kupang NTT selama 2 minggu dalam rangka mengantar dan menemani kakakku yang habis lahiran.

2 minggu di Kupang, aku pulang ke Sidoarjo dan besoknya ikut Family Gathering kantor suami ke sebuah tempat wisata di Lamongan Jawa Timur.  Pagi hari sebelum berangkat Fam Gath itulah saya baru menyadari kalau saya hamil.

Besoknya, kami harus pindahan, kembali ke Malang dengan segala keruwetan packing dan loading barang.

Seminggu di Malang dengan kesibukan merapikan barang-barang pindahan, ditambah menjalankan puasa Ramadhan,  aku baru  sempat periksa ke dokter kandungan.

Dokter memberikan resep obat penguat yang harus aku minum tiap hari. Sepertinya efek dari obat penguat inilah yang membuatku mual muntah. Dokter bilang, mual dan muntah salah satu pertanda janin berkembang dengan baik.

Mungkin karena aktivitas-aktivitas tersebut membuatku kecapekan, ditambah lagi sedang berpuasa dan mual muntah yang mebuat kurangnya nutrisi mengakibatkan timbulnya flek. Dokter tentu saja menyarankan aku bed rest dan tidak boleh berpuasa dulu.

Yang membuatku sedih, aku tidak boleh melakukan perjalan jauh yang berat, padahal saatnya mudik lebaran semakin dekat.

Akhirnya kami memutuskan, saya cuma boleh mudik ke Kediri yang hanya 2 jam perjalanan dari Malang dengan medan berkelok yang tidak terlalu berat.

Terpaksa aku tidak ikut mudik ke rumah mertua karena perjalanan ke sana lumayan berat dengan melewati jalan berkelok, menanjak dengan kemiringan yang lumayan ekstrim dengan kondisi jalan yang rusak  menuju pesisir pantai.

Demi calon bayi kami yang telah 1 tahun lebih kami tunggu kehadirannya, terpaksa saya anteng di Kediri. Suami mudik sendiri ke mertua.

Yang memalukan itu, selama suami mudik, aku yang biasanya kemana-mana sendiri, terpaksa menanggung malu harus rela dibonceng kesana kemari selama acara lebaran (omegot).

Kalo ada yang bawa mobil, aku diikutkan naik mobil. Kayak orang gak bisa ngapa-ngapain wae. Sumpeh gak enak banget harus tergantung sama orang lain.

Untungnya, masa-masa gak nyaman ini gak berlangsung lama. Memasuki bulan ke 4, mual muntah sudah mulai berkurang dan berangsur-angsur hilang. 

Aku ingat sekali hari dimana aku terakhir muntah. Waktu itu aku perjalanan ke Kediri karena ngikut suami yang harus kunjungan kerja ke area Kediri.

Karena Misskom sama suami, jadinya berangkat terburu-buru tanpa sempat masukin apapun ke perut.

Nyampe jalan berbelok-belok (Malang-Kediri harus melalui jalan berkelok-kelok di dinding bukit) mampir ke warung nasi karena terasa lapar.

Karena suami buru-buru mau kerja, terpaksa nasi dibungkus dan saya makan di mobil. Suami ngebut, jalan berkelok, hamil muda, lapar, makan sambil ngepot-ngepot.
Lengkap sudah penderitaanku.

Akumabuk dan muntah dengan sukses. Nyampek Kediri, aku bayar penderitaanku dengan makan bakso panas dan pedas, fiuuuuh langsung nyaman rasanya perut.

Malamnya, kuterima berita duka, rumah yang pagi tadi aku tinggalkan dengan terburu-buru, telah disatroni maling. Isi rumah ludes. TV, Tape, DVD Player dan Tabung Gas. Huhuhu

Memang belum rejeki, dan pasti akan ada rejeki lain yang lebih banyak.

Rencana 3 hari di Kediri gagal total. Malam itu juga kami kembali ke Malang karena rumah dalam keadaan amburadul.

Itulah kali terakhir aku muntah di trimester awal.

Memasuki bulan ke 5, kehamilan makin mudah dan nyaman. Aktivitasku mulai normal seperti ibu rumah tangga lainnya.

Semua yang tidak membahayakan janin, tetep aku lakukan. Mencuci, mengangkat jemuran, naik motor, nyetir mobil dan makan segala macam yang aku inginkan termasuk asam, pedas dan minum Es.

Banyak yang bilang gak boleh makan pedas, ntar mata anaknya belek an, atau gak boleh minum es karena nanti si Baby besar di dalam.

Semua aku cuekin, bablas wes, panduanku cuma dokter, buku dan majalah per baby an.

Tapi, seperti para ortu lain yang akan mempunyai anak pertama, pasti lebih protektif dan tertib. Begitu juga suamiku, selalu mengingatkanku untuk minum segala jenis vitamin yang di resepkan dokter ku.

Dia juga rajin membelikan vitamin DHA for mother dan C*R biar kebutuhan vitamin dan kalsiumku tercukupi.  Kontrol pun rajin aku lakukan setiap bulan ke dokter kandungan  agar terpantau semua berat badan, tekanan darah, dan kondisi janin di dalam perut.

Aku juga rajin ikut senam hamil di salah satu Rumah Sakit Bersalin yang menyediakan fasilitas senam hamil gratis. Aku juga rajin jalan pagi dengan mencoba track baru yang kelak hal itu berguna untukku selain melancarkan melahirkan.

Ngepel lantai dengan berjongkok yang katanya bisa bikin lancar pas lahiran juga aku kerjakan. (kelak aku baru tau kalau itu tidak ada korelasinya, rugi deh gueeee melantai tiap hari).

Apapun perjuangan dan usaha kita, tetap saja keputusan ada di tangan Allah SWT. Manusia hanya berusaha.

Pada akhirnya harapan kita yang paling besar adalah anak kita lahir dengan sehat, lengkap dan selamat, tidak kurang suatu apapun.

Tapi bila memang boleh meminta, segala sesuatu bisa dimudahkan, dilancarkan dan tak ada lagi mual, muntah & teler di kehamilan selanjutnya. 

Nikmatilah semua proses yang dilalui, karena tidak semua perempuan bisa mendapat anugerah ini.

Dewi Ulunk

FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk

Sabtu, 16 Agustus 2014

Program Hamil

          Mei 2007, satu tahun berlalu pasca pernikahan aku dengan suami tercinta (ceileee).  Memang pernah terucap dr bibirku, pingin hamil kalo udah setahun menikah, kata orang jawa, itu adalah janji yang bakal terjadi (hik hik). Suami pingin segera punya baby, tapi tidak membebani (thank's say). Yang jadi masalah dan bikin galau (tentu saja) keluarga n teman-teman yang tiap ketemu gak ada basa basi lain selain " udah hamil belum niiih ?..." Yang lebih heboh sih mertua, tanpa ba bi bu aku di seret ke tukang pijet lah, suruh minum jamu kunyit lah, sampai-samapai kalo berkunjung (perjalanan 5 jam booo dr desanya sono ke kota ku) tak lupa mbawain kunyit (hellllowww, disini kunyit ada loooh). Yang paling bikin  bingung, aku disuruh pakai rok, biar keibuan kata beliau (maklum, mantunya mantan preman pasar yang lemari nya isi celana jeans semua). Tapi, usaha itu tidak berhasil, test pack tetep 1 strip (hiks hiks hiks)
           
        Juni 2007, mulailah aku berpikir dan memantapkan hati untuk mempunyai anak. Karena memang ada kekuatiran aku tidak bisa mendidik anak dengan baik, dan membayangkan capeknya mengurus balita. Tepat 1 tahun usia pernikahan, aku memulai ikhtiar, bertepatan dengan kakak ku yg tinggal di kupang NTT pulang untuk melahirkan anak ke 2nya dengan membawa si batita lucu Nabila. Langkah pertama dimulai dengan niat "Oke , si batita ini akan aku hadapi, biar si emak konsen ke lahiran" . Kalau cuma menggendong dan menidurkan bayi sih aku sudah lihai, tetapi untuk urusan bangun malam, mengatasi anak rewel dst dst aku belum pernah. Alhasil, selama si emak di RS, Nabila tidur dengan aku, aku bangun mbuatin susu kalo dia bangun tengah malam, ,memandikan, menyuapi dan semua berjalan lancar.

        Juli 2007, selain itu, usaha lain pun ak tempuh, ketika selesai mens bulan itu, aku dan suami minum vitamin e (aku pakai merk Nat** e). Aku juga ke kyai untuk minta air yang sudah didoain. Dari kyai tersebut aku dan suami disarankan untuk makan otak kelinci. Ditemani Si kakak (yang baru oprasi caesar 1 minggu) kami hunting menelusuri penjual sate kelinci yang rupanya agak ndelesep menuju pedesaan. Tapi usaha kami tidak sia2. kami dapat 10 kepala kelinci yang udah diungkep. Sumpah, gak tega banget, mbayangin kelinci yang lucu itu, dengan telinga panjangnya, harus ku belah kepalanya untuk ku ambil otaknya. Tapi, niat harus diluruskan. akhir kata, sukses lah ak dan suami makan otak kelinci (pecahan kepala kelinci aku kasih ke teman)

         Dan 1 lagi usaha yang tidak kalah penting nya adalah, menghitung masa subur dan membuat jadwal berhubungan (harus yaa). Mungkin memang rejekiku, setelah lama tidak bertemu, aku ketemu sahabat jaman SMU yang menjelaskan masa subur dengan versi mudah. Begini penjelasannya; Contoh : Mens bulan Juli dimulai tanggal 1. Kemudian mens bulan Agustus dimulai tgl 3. Hitunglah jumlah hari dari tgl 1 Juli sd 3 Agustus;  jumlahnya  34 hari. Jadi siklus anda adalah 34 hari, lalu bagilah 2. 34 : 2 = 17 . Jadi, Masa subur anda adalah hari ke 17 dari mens hari pertama. Kalau mens pertama di tanggal 3 Agustus, berarti masa subur anda di tanggal 19 agustus. Silahkan berhubungan di tanggal 16,19 & 22 Agustus (Gak boleh tiap hari broo, karena akan mengurangi kualitas seperma & kekuatan semprotnya, sabar yaaa). Akan lebih bagus lagi kalo anda menandai hari pertama mens di kalender, biar data lebih akurat.

         Agustus 2007, Tibalah waktunya si kakak pulang ke Kupang membawa 1 batita dan si new born. Akulah yang bertugas mengantarkannya sampai ke kupang. Selama di kupang, aku membantu si kakak mengkondisikan si batita berinteraksi dengan si newborn, meski ngantuk, capek, tp ga bisa boci cuy, karena harus menghandle si batita yang cembokur banget sama si new born ditambah lagi si kakak ngotot aja ngajakin aku jalan-jalan selama di Kupang. Pada saat itu ada beberapa keanehan yang aku rasakan, payudara sakit duluan, padahal belum jadwal menstruasi, dan porsi makan ku ampuuun, porsi kuli (padahal aku biasanya porsi model lho) dan akhirnya si Mens tak datang juga samapi tanggal yang seharusnya. Tapi aku berusaha santai karena ini sering terjadi meski tanpa dibarengi tanda2 seperti yang aku sebutkan tadi.

        Dua minggu di kupang, waktunya aku pulang ke jawa, dan si kakak dengan teganya memulangkan aku dengan menumpang pesawat gagah Hercu**s, pas menjelang Ramadhan pula. Penuh bingit deh si gagah ini. Meski dah dicariin tempat duduk sama teman kakak ipar, percuma aja, jauh dari nyaman. Mau ngrubah posisi kaki  aja gak bisa karena dah penuh barang dan orang. Penumpang sebelah semakin menambah parah suasana, anak nya yang besar rempong tingkat dewa, yang kecil rewel, emak nya muntah tiap kali take off n landing ( bukan pesawat biasa, kayak angkot, mampir2 berkali2). Aku yang repot ngasih permen, tissue, ngasih tempat duduk,air minum dst dst (omegot). Lega bingit pas bisa keluar dari pesawat ini dan dijemput suami tercinta di pangakalan

       Dua minggu berjauhan, tentu rindu berat. Sudah aku ingatkan kalau aku telat, demi tindakan pencegahan, seharusnya tidak boleh berhubungan, tapi dia cuek ajja (ya iyalah, 2 minggu gak ketemu, normal kalle). Paginya ketika aku test (pake test pack yang paling murah, dah keseringan beli) Voila..... positif sodara-sodara. Dari beberapa usaha di atas tadi, entah faktor mana yang lebih berperan, yang pasti kami bahagia dan bersyukur menerima anugrah ini, bertepatan dengan promosi jabatan untuk suamiku yang berarti juga akan mendapatkan mobil dinas dan pindah area sesuai posisi rumah kami berada (kami tinggal di sidoarjo, rumah kami di malang). Sungguh Allah memberikan rejeki luar biasa pada kami. Alhamdulillahi Robbill 'Alamin

           Yang bikin bete dari peristiwa ini, aku jadi bahan bercandaan emak n kakak ku sampai sekarang. Kakak ku bilang " Fiuuuuh, untung aja ketahuan hamilnya dah nyampe jawa, kalo masih di kupang, aku harus belikan tiket komersil nih, gak mungkin dinaikin  Hercu**s, selamet deh dompet ku. Untung juga gak keguguran gara2 naik Hercu**s. take off-Landing berkali-kali, dah kayak naik truk sapi ajja, Ha ha ha ha". Temenku lain lagi deh ngarangnya, " Waduh, pulang dari pangkalan AU Kupang lha kok hamil ??? jangan-jangan ???.... dengan santai ak jawab ajja " Lha gimana lagi, di sana yang bujang ganteng banyak banget, hahay? " Setelah aku renungkan, abis naik pesawat gratisan, aku hamil, kalo program anak ke 2 nanti, masak harus naik pesawat gratisan lagi??? itu lebih susah daripada beli tiket pesawat. ( Sapa yang mau nyeponsori niiih? )

         Thank's yang dah mampir, semoga cerita saya sedikit memberi manfaat. Love Mom's Life.

       










Jumat, 15 Agustus 2014

Ngeblog

         Akhirnya,setelah 1 bulan ,saya baru sempat mengutak atik blog ini dan akhirnya lagi, saya bisa memposting tulisan, meski isinya embuh, ga ada manfaatnya ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€ ╋╋€, paleng tidak, ini selangkah lebih maju buat saya, maklum, emak-emak, ibu rumah tangga gaptek, yang ruwet dengan 2 anak. Semoga , postingan yang akan datang akan memberi banyak manfaat bagi yang lainnya. Amin. Sudah, sementara cuma ini dulu ajja. Maafkan kalo gak penting yah... tapi yang jelas, hadirnya blog ini telah melalui serangkaian proses belajar bagaimana membuat blog, bagaimana memposting, apa yang harus saya tulis, proses membuang rasa takut dan malu bila blog ini gada yang mampir dan gak penting. Setelah saya bisa mengacuhkan alasan-alasan gak penting tadi, yang saya pikirkan adalah, yang penting tidak merugikan orang lain, itu sudah cukup bagus, lebih-lebih bila bisa memberi manfaat kepada orang lain. Salam Kenal.