Assalamualaikum.
Setelah sekian tahun, akhirnya mulai nulis lagi. Ckckck, kemana aja?
Gak ke mana-mana. Cuma kebanyakan rumpik di fb Dewi Ulunk dan IG @dewi_ulunk untuk memulai bisnis online.
Balik ke tema.
Saya pernah banget ngalami kegalauan antara kerja atau jadi ibu rumah tangga. Sebenernya, passion saya untuk bekerja gak gede-gede banget sih. Tujuannya gak jelas mau dapet apa.
Paling banter, mau dapat tambahan penghasilan meski sekedar bisa beli tas, baju dan barang konsumtif lainnya. hihi.
Ini bahaya.
Tujuan yang gak jelas, bakal bikin berputar-putar. Gak nyampe-nyampe ke tujuan. Hasilnya akan begitu-begitu aja.
Setelah vakum 4 tahun karena program hamil, kemudian hamil, melahirkan dan menyusui, saya mantap untuk kembali bekerja.
Tapi ternyata gak mudah samsek.
Berat banget ninggal anak. Apalagi ga ada sodara di kota yang sama. Terpaksa ambil ART menginap dan ini bukan hal yang mudah dan nyaman. Ya gimana ya...terbiasa sendiri, lalu ada orang asing di rumah. Aneh aja. Jadi ga bebas mau ngapa-ngapain.
Udah pernah nyoba titipin anak ke day care. Tapi gagal. Anaknya protes. Ya iya juga, wong trial nya baru sekali doang saya udah hopeless. Mental saya lemah. Ora tego.
Hal galau lain yang barus dihadapi tiap hari adalah, tangisan anak tiap mau ditinggal berangkat kerja. Apalagi Bapaknya kerja di luar kota. Dah lah. Nano-nano rasanya.
Anehnya, sejak saya bekerja, si anak selalu sakit tiap bulan hingga kudu cek lab. Padahal selama ini gak pernah. Sehat-sehat aja.
Puncak kegalauan terjadi ketika si anak sakit lagi dan harus opname. Saat itu saya merasa seperti ibu yang gagal sedunia. Lebah yak? Tapi memang begitu adanya.
Saya pun mulai berpikir ulang. Kenapa saya ruibet nyari uang yang gak seberapa. Lalu uang itu habis buat bayar ART, buat ke dokter dan lab tiap bulan, dan anakku gak bahagia. Huhu.
Sebenernya, apa yang aku cari?
Pertanyaan itu terus berseliweran di pikiran.
Setelah menghitung segala sesuatunya, ditambah lagi ART tetiba pamit pulang seterusnya, saya memutuskan resign.
Cuma 3 bulan saya bekerja lagi. Tapi kehidupan berasa morat marit. Kacau balau dan tidak dalam kendali.
Saya gagal. Gak lihai mengatur dan mencari solusi. Gak tega dan lemah. Memutuskan pasrah dengan apapun rejeki Allah yang dititipkan pada suami. Alhamdulillah cukup meski kudu berhemat.
Makanya sampai sekarang, saya salut pada ibu bekerja yang bisa ngatur rumah, dekat dengan anak, harmonis dengan keluarga dan cemerlang karirnya.
Pasti semua gak mudah. Butuh kerja cerdas, gigih, disiplin dan niat kuat. Gak boleh males-malesan, mbangkong, apalagi tar sok tar sok. Bisa bikin ruwet kerjaan lain.
Akhirnya, dengan segala pertimbangan dan meyakini bahwa rejeki Allah luas, tak terhingga dan tak bisa diprediksi, saya melepas embel-embel mejadi ibu bekerja, memilih jadi ibu rumah tangga.
Kembali mengurus anak sendiri. Bermain dengan bahagia. Gak melewatkan semua tumbuh kembangnya ternyata rejeki tak terhingga yang luar biasa.
Ini pilihan saya yang akhirnya membawa saya ke takdir selanjutnya yang sangat indah.
Setiap ibu, punya pilihan dan keputusan berbeda. Mana aja.
Gak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Gak ada yang lebih mudah atau susah.
Gak ada yang lebih keren.
Semua punya pertimbangan masing-masing karena kondisi berbeda-beda. Apapun pilihannya, lakukan dengan bahagia dan sepenuh hati.
Kalaupun masih harus menambah penghasilan, ada banyak jenis kegiatan dan usaha yang bisa kita kerjakan dari rumah sambil nemenin anak, melayani suami dan ngurus rumah.
Tantangan selanjutnya adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Mempelajarinya. Kemudian menjalankannya dengan sepenuh hati dan yang terpenting, punya tujuan jelas.
Sekian.
Emak Bicill
