Dulu, sebelum punya anak, saya sempat takut membayangkan proses melahirkan yang kata orang-orang sakitnya wow banget.
Setelah 1 th menikah dan tak kunjung hamil, mulailah berbagai upaya saya lakukan. Pijet, jamu, Vitamin E, makan otak kelinci sampai ngitung masa subur dan rajin ngingetin papih bahwa nanti waktunya "nganu...."
Entah ya...faktor mana yang berpengaruh, tp setelah menerapkan beberapa kegiatan tersebut maka, hamillah saya.
Awal hamil, barulah ketakutan saya akan sakitnya melahirkan mulai sirna, karena ternyata, ada yg lebih menakutkan yaitu masa ngidam alias mual muntah.
Gimana gak ngeri gaess, sate gule , pizza, ayam Lodho dan sakpiturute awe-awe depan hidung tapi saya gak nafsu karena perut menolak diisi.
Muntah parah gaess. Gak enak banget rasa di tenggorokan. Body kayak karung tanpa beras. Nglimbruk tak berdaya.
Sampai tiba hari-hari mendekati HPL, saya seperti pada umumnya emak-emak lain, rajin senam hamil dan jalan-jalan pagi.
Alhamdulillah, ada satu RS Bersalin di Malang yang menggratiskan kegiatan senam hamil. Saya manfaatkan sebaik mungkin kesempatan itu, dan saya ulangi ketika saya hamil anak ke 2, 5 tahun kemudian.
Tiap weekeend, saya memilih track jalan pagi yang berbeda. Kadang di lingkungan kampus UB, UMM atau UIN. Kadang ke Batu menyusuri kampung-kampung penjual bunga.
Sesekali, saya juga jalan-jalan pagi di lingkungan sekitar rumah saya dan melalui sebuah rumah bagus yang rimbun dan ternyata rumah seorang bidan.
Pagi itu 10 hari menjelang HPL.
Berhubung bertepatan dengan Libur Nasional Hari Buruh, jalan-jalan pagi kali itu saya ganti ke mall sambil cuci mata.
Ketika mandi, saya mendapati flek di celana dalam saya. Maka berangkatlah kami ke bidan langganan sambil bawa celana buat ganti.
Masih dinyatakan aman oleh bidan karena belum ada buka'an, kamipun lanjut ngemal setelah mengganti sarung saya dengan jeans bumil.
Rencana semula, saya akan melahirkan di rumah ibu saya di Kediri agar ada yang membantu saya nanti.
Kebingungan pun melanda. Harus berangkat kapan?
Kalau berangkat hari ini, nanti malam suami harus balik ke Malang karena besok harus kerja. Kalau berangkat sabtu, kuatir gak nutut juga. Apalagi nanti sore, mobil dipinjam teman buat ngurus pernikahannya di Kediri.
Akhirnya kami putuskan tidak berangkat saat ini.
Malam menjelang, gerimispun datang diiringi kontraksi rutin per 30 menit.
Kakak saya yang waktu itu domisili di Kupang NTT menelpon dan mengkhawatirkan saya. Menyuruh saya segera berangkat ke RS. Sambil ngrumpi by phone, setiap kontraksi datang, saya akan bilang :
"Sik sik diamlah, kontraksi datang" sambil tangan kiri saya pegang hp, tangan kanan berpegangan pada tangan suami.
Begitu kontraksi lewat, rumpik pun berlanjut : "Piye-piye, tadi mbahas apa kita?"
Jam 8 malam, kontraksi makin rapat, gerimis makin lebat, mobil tidak ada, dan taxi online belum usum. Suami menelpon temannya untuk menjemput.
Saya pun turun ke lantai untuk menyiapkan tas sambil nunggu teman yang jemput. Keringat membanjir karena kontraksi yang semakin kuat menguras tenaga saya.
Teman tak kunjung tiba karena macet, dan saya semakin tak bisa menahan kontraksi dan sangat terasa si baby pengen keluar.
Sempat menelpon RS Bersalin tempat saya biasa senam hamil, tapi ambulance terjebak macet pula karena jalur yang dilalui sama dengan teman kami.
Keinginan mengejan sudah sangat kuat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di jalan lahir. Mau tak mau, kami harus menghadapi pertaruhan nyawa ini berdua saja.
Suami mengambilkan saya bantal dan melepas celana dalam saya. Sayapun merebahkan badan ke lantai yang terasa dingin. Tanpa alas, tanpa kain.
Mengejan ke 3 dan putri pertama kami lahir, meluncur dari jalan lahir dan ditangkap suami. Menangis keras lalu terdiam.
Saya berusaha tenang dan menyarankan suami untuk menelpon tetangga depan rumah. Suami yang panik kala itu menaruh si bayi begitu saja di lantai karena tali pusat yang masih menyambung dengan placenta, lalu bergegas lari ke rumah tetangga.
Disaat yang sama, teman kami yang menjemput datang dan bingung kenapa suami saya lari tunggang langgang tanpa memedulikan kedatangannya. Dia yang tidak tahu apa yang terjadi dan memastikan saya baik-baik saja dengan memanggil saya, menunggu instruksi dengan merokok di teras rumah.
Akhirnya, suasana lebih kondusif. Si bayi aman dalam pelukan tetangga. Sementara suami mencari bantuan medis, teman kamilah yang bongkar tas dan mencarikan alas dan selimut untuk si bayi. Barulah dia ikut merasa panik dan menawarkan merebus air seperti adegan melahirkan dalam film jaman dulu hihi.
Bidan datang bertepatan dengan bidan dari RS yang kami telpon.
Tetangga-tetangga juga berdatangan sambil membawakan perlengkapan. Teman-teman suami pun berdatangan dengan tugas masing-masing. Ada yang beli kendi, bunga dan membuat lubang buat memendam placenta.
Tentu saja disertai tingkah konyol dengan mampir ke toko sepatu futsal dan lihat maling di tangakap, memasukkan segala benda aneh-aneh ke dalam kendi Ari-ari.
Diantaranya ada yang datang bersama pacarnya yang calon bidan dan menemani saya malam itu. Dia pula yang selalu nyemprit saya tiap saya bangun mau ke kamar mandi
"Tunggu mbak....jangan jalan dulu. Pusing gak? gelap gak?"
"Aman"
"Ya wes...lanjut"
Malamnya, kami memandangi baby Biya dengan rasa takjub dan takut. Andai bayi kami terlilit tali pusat. Andai saya tak kuat mengejan.
Andai ini andai itu....
Saya juga menyesali, kenapa saya biarkan dia dilantai yang dingin ketika suami memanggil tetangga. Kenapa tidak saya peluk saja dia, toh "kabel"nya pasti cukup panjang.
Saya sempat bertanya ketika kami hanya bertiga saja dengan tetangga yang memeluk bayi kami. Apakah si bayi baik-baik saja.
Tetangga yang mantan perawat itu menjawab dengan ceria. "Sehat mb,
ini lho matanya kethip-kethip".
Kelak saya baru memahami bahwa beliau cuma ingin menenangkan saya saja karena waktu itu si bayi mulai biru karena kedinginan. Boro-boro berkedip-kedip, lha wong matanya belekan parah sampai beberapa minggu.
Pada akhirnya, kami cuma bisa bersyukur dengan segala sesuatu yang dimudahkan, dilancarkan dan disehatkan.
Terlebih lagi, Biya meluluskan 3 permintaan yang selalu saya saoundingkan selama masa kehamilan.
1. Jangan buat bunda sakit ketika mau keluar.
2. Keluarnya pas tanggal muda biar Ayah sudah gajian
3. Lahirnya pas hari libur biar ayah bisa menemani.
Percaya gak percaya, Biya lahir dengan sangat lancar, tepat tanggal 1 Mei yang artinya Ayah sudah gajian dan libur Nasional Hari Buruh.
Dewi Ulunk
FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk
Ibu 2 putri, yang sedang belajar bisnis sembari membersamai anak spesial dan mengubah kerempongan menjadi lebih seru dan lebih bermanfaat untuk sesama.
Rabu, 24 Oktober 2018
Jumat, 05 Oktober 2018
Menulis Untuk Berbagi
Beyuuuuh....
Lama banget gak posting dan nulis di Blog geje ini. Umek bayik
*alesan. Umek bayik kok 5 th loss gak syurhat di mari.
Baiklah, cukup sudah vakum cleaner saya *eh saya vakum posting disini. Sudah waktunya saya bangkit dari keterpurukan *halah dan melanjutkan perjuangan menulis mengisi blog ini.
Sampaikanlah walaupun 1 ayat.
Gak kudu pinter semua bidang untuk jadi guru.
Gak perlu melek semua teknologi baru berani berbagi.
Apa yang kita alami belum tentu sama dengan yg dialami orang lain.
Apa yg kita lalui jelas berbeda dengan yg dilalui orang lain.
Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman kita, bisa jadi bermanfaat untuk orang lain.
Bismillah.
Semangat berbagi
Syurhat di mari.
Biar lega hati.
Sapa tau rupiah menanti
*Ahekb ahek Joss
Lama banget gak posting dan nulis di Blog geje ini. Umek bayik
*alesan. Umek bayik kok 5 th loss gak syurhat di mari.
Baiklah, cukup sudah vakum cleaner saya *eh saya vakum posting disini. Sudah waktunya saya bangkit dari keterpurukan *halah dan melanjutkan perjuangan menulis mengisi blog ini.
Sampaikanlah walaupun 1 ayat.
Gak kudu pinter semua bidang untuk jadi guru.
Gak perlu melek semua teknologi baru berani berbagi.
Apa yang kita alami belum tentu sama dengan yg dialami orang lain.
Apa yg kita lalui jelas berbeda dengan yg dilalui orang lain.
Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman kita, bisa jadi bermanfaat untuk orang lain.
Bismillah.
Semangat berbagi
Syurhat di mari.
Biar lega hati.
Sapa tau rupiah menanti
*Ahekb ahek Joss
Langganan:
Postingan (Atom)
