Dulu, sebelum hamil, sungguh aku ketakutan bila harus melahirkan, coz banyak yang bilang (gak cuma banyak kalle, tapi nyaris semua orang) kalau melahirkan itu sakit, pertarungan hidup dan mati seorang ibu demi buah hati yang di cintainya.
Mungkin perasaan itu pula yang membuatku harus menunggu 2 tahun sampai akhirnya aku di beri anugrah menerima momongan.
Ketika hamil beneran, ternyata ada yang lebih menakutkan daripada bayangan sakitnya melahirkan, yaitu masa-masa ngidam atau trimester pertama.
Masa itu sempat membuatku trauma. 4 bulan pertama kehamilan yang sangat menderita. Bagaimana tidak, semua yang aku makan pasti keluar lagi.
Mual, muntah, perut kosong seperti berisi angin, merasa lapar tapi tidak nafsu makan karena kuatir muntah.
Haduuuh rasanya gak enak banget (lebay, kayak di dunia ini cuma gue ajje yang hamil & mual muntah).
Makan nasi, buah, biskuit, air putih pun muntah. Sampek mikir-mikir kalo mau makan, tapi gak mungkin juga kalo gak makan sama sekali. Kasihan kan si jabang bayi.
Sempat juga mengalami flek diawal kehamilan mungkin karena banyak kesibukan beruntun yang harus aku lakukan.
Sebelum tau hamil, aku sedang berada di Kupang NTT selama 2 minggu dalam rangka mengantar dan menemani kakakku yang habis lahiran.
2 minggu di Kupang, aku pulang ke Sidoarjo dan besoknya ikut Family Gathering kantor suami ke sebuah tempat wisata di Lamongan Jawa Timur. Pagi hari sebelum berangkat Fam Gath itulah saya baru menyadari kalau saya hamil.
Besoknya, kami harus pindahan, kembali ke Malang dengan segala keruwetan packing dan loading barang.
Seminggu di Malang dengan kesibukan merapikan barang-barang pindahan, ditambah menjalankan puasa Ramadhan, aku baru sempat periksa ke dokter kandungan.
Dokter memberikan resep obat penguat yang harus aku minum tiap hari. Sepertinya efek dari obat penguat inilah yang membuatku mual muntah. Dokter bilang, mual dan muntah salah satu pertanda janin berkembang dengan baik.
Mungkin karena aktivitas-aktivitas tersebut membuatku kecapekan, ditambah lagi sedang berpuasa dan mual muntah yang mebuat kurangnya nutrisi mengakibatkan timbulnya flek. Dokter tentu saja menyarankan aku bed rest dan tidak boleh berpuasa dulu.
Yang membuatku sedih, aku tidak boleh melakukan perjalan jauh yang berat, padahal saatnya mudik lebaran semakin dekat.
Akhirnya kami memutuskan, saya cuma boleh mudik ke Kediri yang hanya 2 jam perjalanan dari Malang dengan medan berkelok yang tidak terlalu berat.
Terpaksa aku tidak ikut mudik ke rumah mertua karena perjalanan ke sana lumayan berat dengan melewati jalan berkelok, menanjak dengan kemiringan yang lumayan ekstrim dengan kondisi jalan yang rusak menuju pesisir pantai.
Demi calon bayi kami yang telah 1 tahun lebih kami tunggu kehadirannya, terpaksa saya anteng di Kediri. Suami mudik sendiri ke mertua.
Yang memalukan itu, selama suami mudik, aku yang biasanya kemana-mana sendiri, terpaksa menanggung malu harus rela dibonceng kesana kemari selama acara lebaran (omegot).
Kalo ada yang bawa mobil, aku diikutkan naik mobil. Kayak orang gak bisa ngapa-ngapain wae. Sumpeh gak enak banget harus tergantung sama orang lain.
Untungnya, masa-masa gak nyaman ini gak berlangsung lama. Memasuki bulan ke 4, mual muntah sudah mulai berkurang dan berangsur-angsur hilang.
Aku ingat sekali hari dimana aku terakhir muntah. Waktu itu aku perjalanan ke Kediri karena ngikut suami yang harus kunjungan kerja ke area Kediri.
Karena Misskom sama suami, jadinya berangkat terburu-buru tanpa sempat masukin apapun ke perut.
Nyampe jalan berbelok-belok (Malang-Kediri harus melalui jalan berkelok-kelok di dinding bukit) mampir ke warung nasi karena terasa lapar.
Karena suami buru-buru mau kerja, terpaksa nasi dibungkus dan saya makan di mobil. Suami ngebut, jalan berkelok, hamil muda, lapar, makan sambil ngepot-ngepot.
Lengkap sudah penderitaanku.
Akumabuk dan muntah dengan sukses. Nyampek Kediri, aku bayar penderitaanku dengan makan bakso panas dan pedas, fiuuuuh langsung nyaman rasanya perut.
Malamnya, kuterima berita duka, rumah yang pagi tadi aku tinggalkan dengan terburu-buru, telah disatroni maling. Isi rumah ludes. TV, Tape, DVD Player dan Tabung Gas. Huhuhu
Memang belum rejeki, dan pasti akan ada rejeki lain yang lebih banyak.
Rencana 3 hari di Kediri gagal total. Malam itu juga kami kembali ke Malang karena rumah dalam keadaan amburadul.
Itulah kali terakhir aku muntah di trimester awal.
Memasuki bulan ke 5, kehamilan makin mudah dan nyaman. Aktivitasku mulai normal seperti ibu rumah tangga lainnya.
Semua yang tidak membahayakan janin, tetep aku lakukan. Mencuci, mengangkat jemuran, naik motor, nyetir mobil dan makan segala macam yang aku inginkan termasuk asam, pedas dan minum Es.
Banyak yang bilang gak boleh makan pedas, ntar mata anaknya belek an, atau gak boleh minum es karena nanti si Baby besar di dalam.
Semua aku cuekin, bablas wes, panduanku cuma dokter, buku dan majalah per baby an.
Tapi, seperti para ortu lain yang akan mempunyai anak pertama, pasti lebih protektif dan tertib. Begitu juga suamiku, selalu mengingatkanku untuk minum segala jenis vitamin yang di resepkan dokter ku.
Dia juga rajin membelikan vitamin DHA for mother dan C*R biar kebutuhan vitamin dan kalsiumku tercukupi. Kontrol pun rajin aku lakukan setiap bulan ke dokter kandungan agar terpantau semua berat badan, tekanan darah, dan kondisi janin di dalam perut.
Aku juga rajin ikut senam hamil di salah satu Rumah Sakit Bersalin yang menyediakan fasilitas senam hamil gratis. Aku juga rajin jalan pagi dengan mencoba track baru yang kelak hal itu berguna untukku selain melancarkan melahirkan.
Ngepel lantai dengan berjongkok yang katanya bisa bikin lancar pas lahiran juga aku kerjakan. (kelak aku baru tau kalau itu tidak ada korelasinya, rugi deh gueeee melantai tiap hari).
Apapun perjuangan dan usaha kita, tetap saja keputusan ada di tangan Allah SWT. Manusia hanya berusaha.
Pada akhirnya harapan kita yang paling besar adalah anak kita lahir dengan sehat, lengkap dan selamat, tidak kurang suatu apapun.
Tapi bila memang boleh meminta, segala sesuatu bisa dimudahkan, dilancarkan dan tak ada lagi mual, muntah & teler di kehamilan selanjutnya.
Nikmatilah semua proses yang dilalui, karena tidak semua perempuan bisa mendapat anugerah ini.
Dewi Ulunk
FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk
Mungkin perasaan itu pula yang membuatku harus menunggu 2 tahun sampai akhirnya aku di beri anugrah menerima momongan.
Ketika hamil beneran, ternyata ada yang lebih menakutkan daripada bayangan sakitnya melahirkan, yaitu masa-masa ngidam atau trimester pertama.
Masa itu sempat membuatku trauma. 4 bulan pertama kehamilan yang sangat menderita. Bagaimana tidak, semua yang aku makan pasti keluar lagi.
Mual, muntah, perut kosong seperti berisi angin, merasa lapar tapi tidak nafsu makan karena kuatir muntah.
Haduuuh rasanya gak enak banget (lebay, kayak di dunia ini cuma gue ajje yang hamil & mual muntah).
Makan nasi, buah, biskuit, air putih pun muntah. Sampek mikir-mikir kalo mau makan, tapi gak mungkin juga kalo gak makan sama sekali. Kasihan kan si jabang bayi.
Sempat juga mengalami flek diawal kehamilan mungkin karena banyak kesibukan beruntun yang harus aku lakukan.
Sebelum tau hamil, aku sedang berada di Kupang NTT selama 2 minggu dalam rangka mengantar dan menemani kakakku yang habis lahiran.
2 minggu di Kupang, aku pulang ke Sidoarjo dan besoknya ikut Family Gathering kantor suami ke sebuah tempat wisata di Lamongan Jawa Timur. Pagi hari sebelum berangkat Fam Gath itulah saya baru menyadari kalau saya hamil.
Besoknya, kami harus pindahan, kembali ke Malang dengan segala keruwetan packing dan loading barang.
Seminggu di Malang dengan kesibukan merapikan barang-barang pindahan, ditambah menjalankan puasa Ramadhan, aku baru sempat periksa ke dokter kandungan.
Dokter memberikan resep obat penguat yang harus aku minum tiap hari. Sepertinya efek dari obat penguat inilah yang membuatku mual muntah. Dokter bilang, mual dan muntah salah satu pertanda janin berkembang dengan baik.
Mungkin karena aktivitas-aktivitas tersebut membuatku kecapekan, ditambah lagi sedang berpuasa dan mual muntah yang mebuat kurangnya nutrisi mengakibatkan timbulnya flek. Dokter tentu saja menyarankan aku bed rest dan tidak boleh berpuasa dulu.
Yang membuatku sedih, aku tidak boleh melakukan perjalan jauh yang berat, padahal saatnya mudik lebaran semakin dekat.
Akhirnya kami memutuskan, saya cuma boleh mudik ke Kediri yang hanya 2 jam perjalanan dari Malang dengan medan berkelok yang tidak terlalu berat.
Terpaksa aku tidak ikut mudik ke rumah mertua karena perjalanan ke sana lumayan berat dengan melewati jalan berkelok, menanjak dengan kemiringan yang lumayan ekstrim dengan kondisi jalan yang rusak menuju pesisir pantai.
Demi calon bayi kami yang telah 1 tahun lebih kami tunggu kehadirannya, terpaksa saya anteng di Kediri. Suami mudik sendiri ke mertua.
Yang memalukan itu, selama suami mudik, aku yang biasanya kemana-mana sendiri, terpaksa menanggung malu harus rela dibonceng kesana kemari selama acara lebaran (omegot).
Kalo ada yang bawa mobil, aku diikutkan naik mobil. Kayak orang gak bisa ngapa-ngapain wae. Sumpeh gak enak banget harus tergantung sama orang lain.
Untungnya, masa-masa gak nyaman ini gak berlangsung lama. Memasuki bulan ke 4, mual muntah sudah mulai berkurang dan berangsur-angsur hilang.
Aku ingat sekali hari dimana aku terakhir muntah. Waktu itu aku perjalanan ke Kediri karena ngikut suami yang harus kunjungan kerja ke area Kediri.
Karena Misskom sama suami, jadinya berangkat terburu-buru tanpa sempat masukin apapun ke perut.
Nyampe jalan berbelok-belok (Malang-Kediri harus melalui jalan berkelok-kelok di dinding bukit) mampir ke warung nasi karena terasa lapar.
Karena suami buru-buru mau kerja, terpaksa nasi dibungkus dan saya makan di mobil. Suami ngebut, jalan berkelok, hamil muda, lapar, makan sambil ngepot-ngepot.
Lengkap sudah penderitaanku.
Akumabuk dan muntah dengan sukses. Nyampek Kediri, aku bayar penderitaanku dengan makan bakso panas dan pedas, fiuuuuh langsung nyaman rasanya perut.
Malamnya, kuterima berita duka, rumah yang pagi tadi aku tinggalkan dengan terburu-buru, telah disatroni maling. Isi rumah ludes. TV, Tape, DVD Player dan Tabung Gas. Huhuhu
Memang belum rejeki, dan pasti akan ada rejeki lain yang lebih banyak.
Rencana 3 hari di Kediri gagal total. Malam itu juga kami kembali ke Malang karena rumah dalam keadaan amburadul.
Itulah kali terakhir aku muntah di trimester awal.
Semua yang tidak membahayakan janin, tetep aku lakukan. Mencuci, mengangkat jemuran, naik motor, nyetir mobil dan makan segala macam yang aku inginkan termasuk asam, pedas dan minum Es.
Banyak yang bilang gak boleh makan pedas, ntar mata anaknya belek an, atau gak boleh minum es karena nanti si Baby besar di dalam.
Semua aku cuekin, bablas wes, panduanku cuma dokter, buku dan majalah per baby an.
Tapi, seperti para ortu lain yang akan mempunyai anak pertama, pasti lebih protektif dan tertib. Begitu juga suamiku, selalu mengingatkanku untuk minum segala jenis vitamin yang di resepkan dokter ku.
Dia juga rajin membelikan vitamin DHA for mother dan C*R biar kebutuhan vitamin dan kalsiumku tercukupi. Kontrol pun rajin aku lakukan setiap bulan ke dokter kandungan agar terpantau semua berat badan, tekanan darah, dan kondisi janin di dalam perut.
Aku juga rajin ikut senam hamil di salah satu Rumah Sakit Bersalin yang menyediakan fasilitas senam hamil gratis. Aku juga rajin jalan pagi dengan mencoba track baru yang kelak hal itu berguna untukku selain melancarkan melahirkan.
Ngepel lantai dengan berjongkok yang katanya bisa bikin lancar pas lahiran juga aku kerjakan. (kelak aku baru tau kalau itu tidak ada korelasinya, rugi deh gueeee melantai tiap hari).
Apapun perjuangan dan usaha kita, tetap saja keputusan ada di tangan Allah SWT. Manusia hanya berusaha.
Pada akhirnya harapan kita yang paling besar adalah anak kita lahir dengan sehat, lengkap dan selamat, tidak kurang suatu apapun.
Tapi bila memang boleh meminta, segala sesuatu bisa dimudahkan, dilancarkan dan tak ada lagi mual, muntah & teler di kehamilan selanjutnya.
Nikmatilah semua proses yang dilalui, karena tidak semua perempuan bisa mendapat anugerah ini.
Dewi Ulunk
FB Dewi Ulunk
IG @dewi_ulunk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar